Bagi kami,
dunia harus dibawa mati.
Kalau harta memang tidak bisa ikut saat hidup ini selesai, mungkin tugas kita bukan mengumpulkannya lebih banyak, melainkan mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa menjadi bekal. Sebagian rezeki kami titipkan menjadi nasi kotak, untuk mereka yang bekerja keras setiap hari.

Kenapa Kami Memulai
Kami pernah hidup seperti kebanyakan orang.
Bangun pagi, bekerja, mengejar target, menabung, menyusun rencana demi rencana. Ketika satu impian tercapai, selalu muncul impian berikutnya. Rasanya tidak pernah benar-benar selesai.
Lalu suatu hari kami berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri.
Kalau semua ini memang tidak bisa dibawa mati, sebenarnya sedang untuk apa kami menghabiskan hampir seluruh hidup mengejarnya?
Orang sering berkata,
"Dunia tidak dibawa mati."
Kami percaya. Justru karena itulah kami merasa ada sesuatu yang harus dilakukan.
Kalau rumah tidak bisa dibawa...
Kalau kendaraan tidak bisa dibawa...
Kalau tabungan tidak bisa dibawa...
Mungkin satu-satunya cara adalah mengubah semuanya menjadi manfaat, sebelum semuanya benar-benar tertinggal.
Bukan berarti berhenti mencari rezeki. Justru sebaliknya. Kami ingin setiap rezeki yang Allah titipkan memiliki kesempatan untuk ikut pulang bersama kami, dalam bentuk yang berbeda.
Dari niat sederhana itulah lahir Sedekah MaMi.
MaMi bukan nama seseorang. MaMi adalah singkatan dari Makan Minum. Sebuah ikhtiar kecil untuk mengubah sebagian harta menjadi bekal kehidupan setelah dunia ini selesai.
Untuk Siapa
Kami sadar, kami tidak mungkin membantu semua orang.
Karena itu kami memilih memulai dari orang-orang yang setiap hari ada di sekitar kita, tetapi sering kali luput dari perhatian.
Orang-orang yang tetap bekerja ketika matahari belum terbit. Yang tetap mencari nafkah ketika hujan turun. Yang sering mendahulukan tanggung jawab dibanding makan siangnya sendiri.
Setiap kotak yang kami masak, kami niatkan untuk mereka.
Mungkin satu kotak nasi tidak mengubah hidup mereka. Tetapi kami berharap, setidaknya hari itu mereka bisa pulang dengan perut yang lebih tenang.
Perjalanan Kami
Semuanya berawal dari dapur rumah. Bukan dapur besar. Bukan dapur profesional. Hanya dapur sederhana tempat istri kami memasak dengan niat berbagi.
Puluhan kotak pertama kami salurkan dengan kemampuan yang kami miliki. Lalu perlahan, beberapa teman dan kolega mulai ikut menitipkan sebagian rezekinya.
Puluhan berubah menjadi ratusan. Setiap bulan jumlahnya terus bertambah.
Sampai akhirnya, di pertengahan tahun 2026, kami mengambil keputusan yang mungkin terdengar tidak biasa. Kami memilih mewakafkan waktu, tenaga, dan sebagian harta kami untuk membangun dapur sendiri, dengan peralatan yang layak agar manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak orang.
Lalu lahirlah sebuah target: 4.000 porsi setiap bulan. Bukan karena angka itu terdengar hebat. Justru karena angka itu membuat kami sadar bahwa perjalanan ini tidak akan mudah.
Tetapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Begitu juga ribuan porsi itu. Dimulai dari satu kotak nasi.
"Titipan Anda tidak menentukan apakah kami berangkat.
Titipan Anda menentukan berapa banyak yang bisa kami bawa."
Sedekah MaMi bukan bisnis katering. Kami juga bukan yayasan. Ini adalah ikhtiar dua orang yang sedang belajar mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah dunia.
Ada atau tidak ada yang menitipkan sedekah, insyaAllah kami akan tetap memasak. Kami akan tetap berangkat. Karena perjalanan ini memang sudah kami niatkan sejak awal.
Kalau hari ini Anda ingin ikut menitipkan sebagian rezeki, kami akan memasaknya dengan sebaik mungkin dan mengantarkannya kepada mereka yang membutuhkan.
Kalau hari ini belum waktunya, tidak apa-apa. Doa dari Anda pun sudah menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melangkah.
Kami tidak berharap nama kami diingat. Kami hanya berharap, ketika seluruh perjalanan hidup ini selesai nanti, ada ribuan kotak makan yang menjadi saksi bahwa kami pernah berusaha mengubah sebagian dunia menjadi bekal akhirat.
Bismillah.
Semoga setiap kotak yang dibagikan menjadi manfaat bagi yang menerima, dan menjadi amal yang terus mengalir bagi siapa pun yang ikut menitipkannya.
Mari titipkan sebagian rezeki hari ini.
Biarkan kami yang memasak. Biarkan kami yang mengantarkan.
Semoga Allah yang mencatat setiap kebaikannya.